masukkan script iklan disini
Medan, 2 Februari 2026 – Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI Partai Golkar Sumatera Utara yang berlangsung pada 31 Januari - 2 Februari 2026 di Hotel JW Marriott Medan telah melahirkan kepemimpinan baru dengan terpilihnya Andar Amin Harahap (AAH) sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumut periode 2026-2031.
Kemenangan AAH dalam Musda yang diikuti dua kandidat—AAH dan Hendri Yanto Sitorus (HYS)—membuka spekulasi luas tentang dinamika internal Partai Golkar Sumut, terutama pasca pencopotan Musa Rajekshah yang digantikan Plt. Ahmad Doli Kurnia Tandjung (ADK).
Konsolidasi Cepat: 30 Suara untuk AAH
Yang menarik perhatian publik adalah kecepatan konsolidasi dukungan terhadap AAH. Dari 39 suara DPD Kabupaten/Kota, AAH telah mengantongi komitmen awal 30 suara—jauh melampaui persyaratan minimal 30 persen (sekitar 12 suara) untuk pencalonan.
Dukungan masif ini menimbulkan pertanyaan: apa yang melatarbelakangi kekompakan luar biasa ini? Apakah ini murni konsolidasi politik ataukah ada agenda tersembunyi di baliknya?
Tiga Pertanyaan Krusial
Hasil Musda XI memunculkan tiga pertanyaan mendasar yang perlu dijawab:
Pertama, apakah terpilihnya AAH merupakan bentuk politik balas dendam atas pencopotan Musa Rajekshah? Pergantian kepemimpinan yang dramatis dari Musa ke Plt. ADK, kemudian dilanjutkan dengan terpilihnya AAH, mengindikasikan adanya dinamika politik internal yang kompleks.
Kedua, apakah AAH adalah sosok representasi DPP Partai Golkar untuk memetakan ulang konfigurasi politik Golkar Sumut menjelang Pilgubsu 2029? Terpilihnya AAH bisa jadi merupakan strategi jangka panjang untuk mempersiapkan kendaraan politik bagi ADK dalam kontestasi gubernur 2029 melawan petahana Bobby Afif Nasution.
Ketiga, siapa sebenarnya tiga tokoh yang diduga mendesain jalannya Musda ini? Spekulasi tentang "arsitek" di balik kesuksesan AAH terus bergulir di kalangan internal partai.
Ketidakhadiran yang Bermakna
Ketidakhadiran Gubernur Sumut Bobby Afif Nasution dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam Musda XI memicu berbagai interpretasi. Apakah ini sinyal jarak politik ataukah strategi "low profile" untuk menghindari kesan intervensi?
Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut Rolel Harahap dalam siaran persnya menyatakan bahwa Ketua Umum DPP Bahlil Lahadalia telah menyampaikan ucapan selamat kepada AAH. Pernyataan ini tampaknya dimaksudkan untuk menegaskan legitimasi hasil Musda dan menepis kecurigaan tentang legalitas proses.
Tantangan ke Depan
AAH kini menghadapi tugas besar: membuktikan kapasitasnya memimpin Golkar Sumut di tengah dinamika politik lokal yang kompleks. Beberapa tantangan utama yang harus dihadapi:
Konsolidasi Internal: Menyatukan seluruh elemen partai pasca kompetisi politik yang ketat
Persiapan Pilgubsu 2029: Memposisikan Golkar Sumut sebagai kekuatan politik utama dalam kontestasi gubernur
Hubungan dengan DPP: Menjaga keselarasan dengan kebijakan DPP Partai Golkar
Legitimasi Kepemimpinan: Menunggu penerbitan SK dan pelantikan resmi dari DPP
Skenario ADK untuk Cagubsu 2029?
Pertanyaan terbesar yang mengemuka: apakah AAH adalah jembatan politik untuk mempersiapkan ADK sebagai calon gubernur Sumut 2029? Jika benar, ini akan menjadi strategi politik jangka panjang yang menarik, di mana kepemimpinan AAH difungsikan sebagai "mesin politik" untuk memenangkan ADK dalam pertarungan melawan Bobby Afif Nasution.
Penutup
Terpilihnya AAH sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumut membuka babak baru dalam dinamika politik Golkar di Sumatera Utara. Apakah ini merupakan politik balas dendam, konsolidasi strategis, atau persiapan jangka panjang untuk Pilgubsu 2029, waktu yang akan menjawab.
Yang pasti, arah kebijakan DPP Partai Golkar di bawah Bahlil Lahadalia akan sangat menentukan masa depan politik Golkar Sumut dan peran AAH dalam peta politik lokal menjelang 2029.
Penulis:
Dr. Suheri Harahap, M.Si
Pengamat Politik Sumatera Utara.(Awan/red)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar